Kami naik kereta dari stasiun s’-Hertogenbosch tujuan Amsterdam, pemandangan sepanjang perjalanan buat saya sangatlah menyenangkan, jadi seperti anak kecil yang senang diajak jalan-jalan orangtuanya he-he-he. Untungnya nih kami dapat tempat duduk di kereta, karena kalau di jam – jam sibuk (kantor) kadang kereta penuh, tapi tenang saja, kondisi dalam kereta di Belanda ini tidak seperti kereta di Jakarta ko yang penuh sesak plus bau
.
Banyak juga loh orang – orang yang naik kereta membawa sepeda mereka tapi kebanyakan yang sepeda lipat, jadi ketika turun kereta bisa lanjut dengan sepeda ke tempat tujuan berikutnya. Udara di Belanda bersihhh sekali, karena banyak bangetttt orang-orang disini yang naik sepeda mulai dari anak kecil sampai para manula, jadi jangan heran banyak parkiran sepeda di mana – mana (kebalikannya kalau di Jakarta yang banyak malah parkiran motor
).
Amsterdam adalah ibu kota Belanda secara de jure, tertulis di dalam undang-undang dasar. Secara de facto, pusat pemerintahan, parlemen, mahkamag agung, ratu dan perwakilan negara asing berkedudukan di Den Haag.
Kota Amsterdam memiliki penduduk sebanyak 742.951 jiwa dengan wilayah sebesar 219,07 km2. Kota ini secara administratif dibagi menjadi 15 bagian yang kurang lebih bisa disamakan dengan kecamatan di Indonesia tetapi disebut dengan istilah deelgemeente. (sumber id.wikipedia).
Sekitar jam 11 pagi sampailah kami di Amsterdam, cuacanya hangattttt, ambil satu foto dulu ah buat kenangan, Ouuuww silauuu kena sinar matahari, sampai mataku merem merem
.
Kalau Anda lihat papan atau triplek triplek berwarna biru disepanjang stasiun Amsterdam, itu karena stasiun ini sedang direnovasi, konon renovasinya tidak kunjung selesai entah sudah berapa tahun dan entah sudah menghabiskan berapa banyak biaya.
Saat itu Amsterdam ramai sekali, oleh penduduk lokal dan para wisatawan, trem yang lewat juga hampir semuanya terisi penuh. Kami (teman saya dan saya) menyusuri jalanan depan stasiun, dengan tujuan awal ke Red Light District (RLD).
(RLD) ini bisa dicapai dengan berjalan kaki, sambil jalan teman saya tersebut menerangkan tempat – tempat yang kami lewati. Kami berhenti di satu toko souvenir (masih dekat stasiun), melihat lihat kalau ada barang yang murmer (murah meriah). Ditoko ini kami hanya beli dua atau tiga gantungan kunci, karena ditoko tersebut sebagian besar barangnya mahal! Jadi cukup puas untuk cuci mata.
Lanjuttt jalan lagi
, eh ada toko souvenir lagi, entah ada empat atau lima toko souvenir yang kami singgahi, pokoknya sepanjang jalan tersebut (masih area stasiun) banyakkkk sekali toko souvenirnya, jadi ditiap toko saya melihat – lihat kalau ada barang murmer saya beli dua atau tiga buah sovenir.
Ada sesuatu yang unik, klompen ukuran besarrr, di toko ini saya tidak membeli apapun, tapi numpang mejeng dengan klompennya saja, sebelum dilihat pemiliknya, ayoooo ngaburrrr
.
Akhirnya sampai di Red Light District Amsterdam …
Maapppp kalau nantinya ada gambar yang mungkin bagi Anda tampak agak vulgar, sekedar berbagi informasi he-he-he.
PERHATIAN!!! Anak dibawah usia 17 tahun, DILARANG!! Baca tulisan ini .. segera tutuppp!
.
Kami masuk dari arah jalan ini ..
Red Light, nama asli jalan ini adalah Nieuwendijk. Disini adalah lokasi Pelacuran atau prostitusi yang dilegalkan. Ditempat ini para pekerja seks komersial (PSK) memamerkan tubuh mereka di balik etalase / kaca, mirip seperti kaca akuarium saja, dulu sebelum saya mengunjungi tempat ini saya hanya bisa membayangkan kira-kira tempatnya seperti apa ya..? karena dari beberapa cerita teman-teman, mereka bilang para PSK nya di balik kaca, nah setelah melihat langsung baru bisa bilang “Ooo begono … “
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya.
Red Light District diasosiakan sebagai ajang industri sex atau bisnis yang orientasinya sudah jelas, yakninya untuk urusan pemuas nafsu sahwat (sex shops, strip clubs, adult theaters) bahkan ada ada juga toko yang menjual ganja, dan ini di legalkan loh disana! dan saya rasa tempat ini menjadi salah satu tempat bisnis yang diperhitungan oleh kalangan tertentu.
Kenapa tempat ini dinamakan Red Light? Karena nuansanya merah, bisa dilhat pada gambar dibawah ini
Para PSK nya beragam mulai dari yang bertubuh langsing sampai yang genduttt, dari yang sangat muda sampai yang usia uzur alias tua juga tersedia disini, kalau yang berumur lanjut ya bisa kelihatan deh lemak badannya kemana – mana (apa masih ada yang tertarik ya???), para PSK tersebut bukannya insaf ya sudah lanjut usia hidup benar dong!, hmm kalau mereka berpikiran seperti saya mungkin tempat ini sudah tutup he-he-he.
Mau yang kulit putih atau kulit hitam tersedia lengkap disini, semuanya dipajang di balik kaca etalase dengan pakaian yang super minim (bra atau lingerie), jadi buat kaum adam yang gak kuat iman, jangan coba – coba mengunjungi tempat ini
.
Coba masuk ke gang gang kecil, ternyata tetap banyakkk etalase –etalase yang ukuran super kecil (hanya bisa buat berdiri saja). Kalau ada orang yang melewati etalase, maka para PSK nya langsung deh bergaya seronok meliuk liuk kan badannya supaya yang lewat tertarik berhenti untuk melihat, malah syukur-syukur menggunakan jasa mereka. Maka kalau mengunjungi tempat ini jalan cepat saja, jangan coba-coba berhenti karena nanti ada makelarnya yang menghampiri Anda menanyakan mau pilih yang mana, “coba masuk dulu silakan lihat-lihat banyak pilihannya”. Jika ada orang yang berminat menggunakan jasa PSK tersebut maka hordeng etalasenya ditutup.
Sampai jumpa redlightamsterdam, saya tak kan kembali lagi tuk melhat mu, sekali saja seumur hidup kesini hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya
.
Yuk mari lanjuttt menikmati Serunya ke Museum Lilin Madame Tussauds Amsterdam, mau lihat yang menawan, bagus, mewah, yang Indah Indah aja deh
Bersambung yaaa ..
Tulisan Terkini:
- Tulip Bermekaran di Taman Kota
- Cara Membeli Domain di Toko WordPress
- 4 Tahun Bersama WordPress
- Update Bunga Musim Panas
- Curhat Ngeblog (2)
- Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart (Bagian 3)
- Kisah Kawin Campur (Bagian 6)
- Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart (Bagian 2)
- Jalan-jalan ke Wilhelma Stuttgart
- My 1st Wedding Anniversary
- Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 5)
- Menanam Bibit Bunga Musim Panas (Bagian 2)
- Jangan Biarkan Tanaman Hias Berdebu
- Kisah Kawin Campur (Bagian 4)
- Beberapa Kisah Kawin Campur (Bagian 3)








kak mau tanya, dulu waktu pulang dari belanda harus lapor ke kedubes belanda nggak? lapor kalo udah balik ke indo gitu.. thanks
Iya lapor diri dalam waktu tiga hari kerja setelah tiba di Indonesia, tidak perlu buat janji lagi, langsung datang saja menghadap konsularnya tunjukkan visamu. Oh ya datangnya jam 2 siang aja karena kalau lapor itu harus siang, tahun lalu saya datang pagi disuruh tunggu sampai jam 2 siang hikss.
Pingback: Yuk! Berwisata ke Amsterdam « pursuingmydreams